sorry ya gan,,,

blog nya lagi dalam masa perbaikan neh,,

maaf atas ketidaknyamanan nya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

moga2 bisa cpet selesai aja...

doa nya gan,,,,,,,

rss

Monday, April 16, 2012

Objectophilia - Rasa Cinta pada Benda

share

SAAT  Anda mengagumi benda tertentu, menganggapnya spesial, tergila-gila, hingga merasa jatuh cinta terhadap benda tersebut, bisa jadi Anda adalah seorang  Objectum-Sexual (OS). Apakah bisa?

Hm, memang terdengar aneh dan agak tidak masuk akal bagaimana seseorang bisa menyerahkan cintanya pada suatu benda. Namun, itu nyata. Paling tidak setelah Anda mengenal seorang bernama Erika Erika La Tour Eiffel. Perempuan yang lebih dikenal dengan nama Erika Eiffel itu adalah seorang OS. Ia mengganti nama depannya menjadi ”Eiffel” setelah pada 2007 lalu mengklaim telah menikah dengan Eiffel Tower di Paris, Perancis.

Sebelum menjalin hubungan dengan Eiffel, perempuan dengan nama asli Erika LaBrie itu juga pernah menjalani kisah percintaan dengan Tembok Berlin selama 20 tahun. Pemanah berkebangsaan Amerika tersebut juga pernah kesengsem pada busur panah yang diakuinya bernama Lance. Menurut Erika, Lance sangat seksi dan selalu menarik perhatiannya.

Kisah kecintaan Erika pada benda sebenarnya dimulai ketika ia mendaftar di angkatan udara AS pada 1993. Di akademi penerbangan, perempuan yang juga akrab disapa Aya itu mengalami pelecehan seksual. Nah, sejak saat itu, ia pun belajar bela diri Jepang dengan spesialisasi pedang.

Pada September 2003, kasus Erika mencuat dan menjadi perbincangan di kalangan militer AS. Sementara, ia saat itu tengah mengalami Post-traumatic Stress Disorder (PTSD).

Stres pasca-trauma tersebut membuatnya ketakutan hingga kesulitan untuk tidur. Saat tidur, ia harus mendekap erat katana (pedang khas Jepang) miliknya. Hingga akhirnya, Erika pun jatuh cinta pada pedang tersebut.

Lain lagi dengan kisah Eija-Riitta Berliner Mauer. Perempuan 54 tahun tersebut mengaku telah menikah dengan ”seorang” struktur beton pada Tembok Berlin pada 1979.

*****

Saat kisah cinta dengan benda itu disamakan dengan hubungan percintaan antar-manusia, Anda tentu akan menganggap kisah kasih itu menggelikan. Namun, barangkali Anda akan sedikit maklum jika tahu, kenapa seorang OS menjalaninya.

Objectum-seksuality atau lebih dikenal sebagai Objectophilia adalah sebuah perasaan cinta, daya tarik, gairah, hingga menjurus komitmen, kepada suatu obyek atau benda tertentu.

Ketika kasus OS meledak pada 2009, ahli medis, psikolog, dan seksolog dunia mengategorikan penyimpangan orientasi seksual tersebut sebagai ”paraphilia”. Namun, sebuah penelitian seorang seksolog klinis, Dr Amy Marsh menolak untuk mengatakan itu sebagai paraphilia. Hal tersebut merujuk hasil penelitian yang dilakukannya terhadap eksponen OS Internasionale (sebuah organisasi pelaku OS dunia) yang menyimpulkan bahwa OS bukanlah paraphilia, melainkan sekadar perbedaan orientasi semata. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam “Love Among the Objectum Sexuals” di The Electronic Journal of Human Sexuality pada Maret 2010.

Obyek yang menjadi ciri dalam orientasi seksual seorang OS adalah benda tak hidup, bisa berupa bangunan, bagian benda tertentu, perkakas, kendaraan, atau materi apa saja yang tidak bernyawa. Benda-benda tersebut diperlakukan layaknya pasangan hidup yang bisa diajak mengobrol, berpadu kasih, dan dianggap juga memiliki perasaan.

Tak jarang jika obyek itu kemudian diberi nama, diciumi, diusap-usap, hingga dijadikan bentuk fantasi dan orientasi seksual seorang OS.

Lantas, apakah OS bisa disebut sebagai sebuah kelainan seksual? Itu masih menjadi bahan perdebatan. Dilihat dari sisi obyek yang menjadi ”sasaran” orientasi, beberapa ahli mengatakan, objectophilia hampir menyerupai fetishism.

Fetishism adalah bentuk paraphilia yang menjadikan obyek tak hidup (inanimate object) semisal sepatu, pakaian dalam, atau benda-benda tertentu yang biasanya melekat pada lawan jenis, sebagai obyek untuk memunculkan gairah seksual. Obyek fetishism juga bisa berupa bagian tubuh tertentu (rambut, telinga, tangan, kaki) yang menurut si penderita menarik.

Penyimpangan seksual itu salah satunya muncul akibat peristiwa traumatik yang pernah dialami penderita, semisal pelecehan seksual, pencabulan, pemerkosaan, kekerasan masa kecil, atau pernah menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut hingga menimbulkan trauma.

Namun, Dr Amy Marsh menolak untuk mengatakan OS sebagai bentuk fetishism. Menurut seksolog yang biasa mengisi kolom mingguan di Carnal Nation bertajuk ”Love’s Outer Limits” itu, OS hanyalah bentuk orientasi yang berbeda dari kebanyakan orang.

Peneliti lain mengaitkan temuan Dr Amy Mars tersebut dengan paham ”animisme”, karena beberapa pelaku OS biasanya juga menganut animisme. Mereka menganggap obyek atau benda tertentu memiliki jiwa, pikiran, perasaan, dan mampu berkomunikasi.

Berkebalikan dengan fetishism, dalam animisme menjadikan obyek sebagai pasangan secara utuh, lengkap dengan hubungan emosionalnya, bukan semata benda yang memunculkan gairah seksual.


****

Terkait dengan beberapa kasus penyimpangan orientasi seksual pada obyek tertentu, Psikolog Siswanto S Psi M Si Psi, menyatakan, ada banyak alasan seseorang melakukan ”penyimpangan” tersebut.

Pertama, kata dari dosen Universitas Katolik Soegijapranata Semarang tersebut, karena orang itu mengalami gangguan secara psikologis (disorder). Akibat gangguan tersebut, si korban mengalami perubahan orientasi, menjurus pada benda tertentu. Orientasi abnormal itu bisa disebabkan oleh pengenalan seksual kali pertama yang dialami korban. Untuk kasus ini adalah benda tertentu.

”Dalam teori behaviour, bisa jadi ketika kecil dulu, korban mengalami gairah seksual kali pertama lewat benda tertentu. Maka ketika dewasa, kebiasaan itu terus terbawa,” terangnya via telepon.

Bisa juga korban mengalami rasa rendah diri dalam berhubungan sosial. Korban tidak bisa berelasi dengan baik. Nah, rasa minder itu kemudian membuat orientasi korban berubah.

Keadaan psikologis yang tidak berkembang juga bisa menjadi alternatif penyebabnya. Seseorang yang mengalami tumbuh-kembang secara fisik belum tentu diiringi pertumbuhan psikologis yang seimbang. Ketika ada ketidakseimbangan psikologis, otomatis fase tertentu yang seharusnya sudah dilalui bisa jadi tidak berlanjut, alias mandek.

Korban juga bisa mengalami perubahan orientasi seksual karena trauma masa kecil. ”Trauma seksual karena pelecehan seksual atau kekerasan anak adalah penyebab utama seseorang mengalami penyimpangan saat dewasa. Kemungkinan itu cukup besar,” ungkap pria asal Kudus yang kini berdomisili di Ungaran tersebut.

Yang pasti, masih menurut dosen pengampu psikologi klinis tersebut, seseorang bisa disebut mengalami penyimpangan orientasi seksual apabila ia melakukan kegiatan seksual, baik secara emosional maupun fisik, secara tidak normal. ”Selain itu, bisa jadi ia (hanya) mengalami gangguan narsisistik,” katanya.

Hm, begitulah. Apapun yang dialami para pelaku OS, mereka pasti punya alasan masing-masing. Mungkin, inilah kata paling cocok untuk mereka: Karena cinta memang buta! Haha. 

sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/29/175231/Rasa-Cinta-pada-Benda-

1 comments:

Mahfud on May 28, 2012 at 5:03 AM said...

Wah, cinta memang buta.. XD tapi sipp.. blognya bagus.. visit punyaku juga ya?
tinggalin komen gitu.. :D


Post a Comment

 

Mau SMS Gratis.......???